Contoh Dongeng Terang Bulan

Contoh Dongeng Terang Bulan
Contoh Dongeng Terang Bulan
Contoh Dongeng Terang Bulan
Contoh Dongeng Terang Bulan - Setiap orang pasti pernah mendengarkan dongeng, dongen memang tidak lepas dari kehidupan sehari-hari kita. Apalagi sewaktu kecil, kita pati sering diceritakan dongen oleh orangtua kita. Dongeng merupakan bentuk sastra lama yang bercerita tentang suatu kejadian yang luar biasa yang penuh khayalan (fiksi) yang dianggap oleh masyarakat suatu hal yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng merupakan bentuk cerita tradisional atau cerita yang disampaikan secara terun-temurun dari nenek moyang. Dongeng berfungsi untuk menyampaikan ajaran moral (mendidik), dan juga menghibur.

Sementara dongeng juga ada jenis-jenisnya, diantaranya :
  1. Fabel, yaitu dongeng yang tokohnya adalah binatang yg berperilaku seperti manusia, misalnya dapat berbicara dan berjalan. Contohnya, dongeng Kancil dan Buaya serta Kancil Mencuri Timun.
  2. Legenda, yaitu dongeng yang menceritakan tentang kejadjian alam atau suatu tempat. Contohnya, legenda Rawa Pening dan Legenda Danau Toba.
  3. Mite/Mitos, yaitu dongeng yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat tentang dewa-dewa dan mahluk halus. Contohnya, mitos Nyi Roro Kidul.
  4. Sage, yaitu dongeng yang mengandung unsur sejarah atau kisah kepahlawanan. Contohnya kisah Jaka Tingkir, Ramayana, Si Buta Dari Gua Hantu.
  5. Parabel, yaitu dongeng yang mengandung nilai-nilai pendidikan. Parabel juga dapat berupa cerita pendek dan sederhana yang mengandung hikmah atau pedoman hidup. Contohnya, dongeng Si Maling Kundang.
Dongeng juga termasuk cerita rakyat dan merupakan bagian tradisi lisan yang disampaikan dari mulut ke mulut. Sastra lisan tersebut mempunyai beberapa tanda atau ciri-ciri yang menandakan dongeng atau sastra lisan sebagai berikut. 

Menurut Pudentia (1998:187) mengemukakan “Ada dua ciri pokok yang dapat digunakan, yaitu (1) dikatakan dan didengar, dan (2) situasi tatap muka.” Maksud dari pendapat tersebut, penulis jelaskan bahwa yang termasuk ciri-ciri sastra lisan yaitu ada yang menjadi pembicara untuk mengatakan atau menyampaikan dan ada pula yang menjadi pendengar dalam keadaan tatap muka tanpa ada panghalang waktu.

Pendapat di atas, diuraikan lebih lengkap lagi menurut Danandjaja (2007: 3) yang mengemukakan bahwa ciri-ciri dongeng sebagai berikut :

penyebaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat, dan alat pembantu pengingat), dari satu generasi ke generasi berikutnya; disebarkan diantara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama; ada dalam versi yang berbeda-beda. Hal ini diakibatkan oleh cara penyebaran dari mulut ke mulut ( lisan);

bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi;
biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola seperti kata klise, ungkapan-ungkapan tradisional, kalimat-kalimat atau kata-kata pembukaan dan penutup baku;
mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu kolektif, sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial dan proyeksi keinginan yang terpendam;

bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika tersendiri yang tidak sesuai dengan logika umum;
menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Hal ini disebabkan penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya;
bersifat polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti bahwa dongeng juga merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manifestasinya 

Dibawah ini merupakan Sebuah Contoh Dongen berjudul Terang Bulan.


TERANG BULAN

Bulan bulat menatap penuh kearah gunung merapi. Tampak anak-anak bermain dengan siraman cahaya dari dirinya. Terdengar gelak tawa anak-anak sampai ke telingan Bulan. Tapi ada satu anak yang tidak tampak bahagia, dia duduk di udut pendopo, alisnya bertaut.

"Hm, Siapakah anak yang edang muram itu?" Bulan bertanya ingin tahu, "Oo, dia sianak kota besar, ada apakah?".

Perlahan bulan mendekati anak itu.

"Hai! Siapa namamu? Mengapa engkau bersusah hati dan tidak ikut bermain?, tanya bulan ramah.

Dengan terkejut, anak itu menjawab "Aku Tomi, aku tidak bisa bermain, karena semua mainan elektronikku tertinggal di Jakarta".

Bulan tersenyum, "Mengapa engkau tidak bermain dengan teman-temanmu?", tanyanya.

"Permainan merek? Tidak ah! Hanya membuang tenaga dn aku tidak mengenal mereka", Jawab Tomi ketus.

"Ohoho, lihatlah betapa asyiknya mereka bermain. Ada yang benteng, galasin, gasing dan wah ! Ada perminan patok lele!". ucap Bulan. 

Tomi melirik sekilas tanpa bergerak.
"Nama nama permainan yang aneh"bisiknya pelan.

"Tapi jika udah dimainkan akan terasa serunya!", wajah bulan semakin berseri.

Tomi mulai memperhatikan ke arah  kerumunan permainan. Ada empat anak yang meminkan petok lele, mereka membawa kayu kecil lalu mengungkit dan melambungkan setinggi-tingginnya, lalu siapa yang mendpat nilai tertinggi, maka dialah yang memenangkn pertandingan. Hm, seru juga tampaknya. Senyum mulai terukir di sudut bibir Tomi.

"Bulan, petok lele sepertinya menyenagkan juga!". Ucap Tomi tulus.

"Bermainlah Tomi. Sinarku akan menerngi perminanmu dn teman-teman, nikmati alam dan karunia yang diberikan oleh Tuhan." Bulan menatap penuh arti. Tomi tersenyum dan segera berlari menuju kerumunan teman-teman barunya.

Sayup-sayup terdengar nyayian yang begitu indah dari arena permainan.

"Yo, poro konco dolanan neng jobo, padng mbulan, padange koyo rino, rembulane ne sing ngawe-ngawe, ngelingake ojo podo turu sore*..."

"Ayo, teman semua, mari kita bermain diluar, terang bulan begitu terang, seterang siang, lihatlah bulan melambai memanggil-manggil, janganlah kau tertidur di sore hari"


Demikianlah Contoh Dongeng Terang Bulan, moga bisa meninspirasi anda dalam menyampaikn sebuah dongeng.
Advertisement